!--Start Related Posts-->

Senin, 10 April 2017

#MemesonaItu Mengapresiasi Diri Sendiri, Kalau Kamu?






Bismilaahirrohmaanirrohim...

#MemesonaItu... sebuah rangkaian kata yang memiliki berbagai makna, definisi, dan penafsiran yang berbeda dari tiap-tiap individu. Cakupannya begitu luas sesuai dengan pemikiran masing-masing. Sama halnya dengan yang akan saya tuturkan berikut ini.

Salahsatu rekan kerja pernah saya tanyakan tentang #MemesonaItu, yang ditujukan khusus untuk seorang perempuan. Dan seperti inilah reaksi mereka.

Mas Bejo1 : #MemesonaItu ketika perempuan yang tak hanya cantik fisik namun dengan hati, tapi mereka juga punya kemampuan dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan masyarakat. Nyambung, enak diajak ngobrol, dan penampilan mereka enak dipandang.

Mas Paijo2 : #MemesonaItu adalah Perempuan yang Pendiam. Pendiam dalam hal, mereka bergerak seperlunya, berucap pun seperlunya.

Dari dua orang yang saya mintakan tolong pendapat mereka tersebut, membuat saya menyimpulkan makna #MemesonaItu versi saya sendiri.

#MemesonaItu ketika diri mampu Mengapresasi apa yang ada pada diri sendiri. Mengapresiasi itu tidak hanya pasrah dengan penerimaan yang telah ditetapkan oleh yang kuasa, namun juga mengasah dan berusaha lebih baik sebagai wujud apresiasi untuk diri sendiri.

Wujud #MemesonaItu dalam hidup saya cukup sederhana. Keep on believe to your self. Percaya pada diri sendiri. Selain daripada itu, masih ada beberapa poin penting, kenapa diri ini juga perlu dikatakan Memesona, karena #MemesonaItu dalam hidup saya adalah serangkaian cerita yang perlu dibagikan kepada setiap orang, khususnya yang sedang membaca tulisan ini, supaya aspek yang menurut saya #MemesonaItu bisa menjadi sebuah pelajaran, pengalaman, maupun inspirasi jika sebenarnya kita ini Memesona dengan tetap menjadi diri sendiri, dan mengapresiasinya.

Let see, sesuatu apa saja yang membuat saya nampak #MempesonaItu.


1. Bersyukur tiada henti



Berucap lebih mudah daripada mempraktekannya, itu pun sesuai dengan realita yang sesungguhnya. Dengan bersyukur, walau awalnya cukup sulit dilakukan dengan diasah secara terus menerus, tentu akan memberi dampak dan manfaat yang besar bagi diri sendiri.

Pelajaran tentang “Syukur” ini selalu saya terima dalam universitas kehidupan yang saya alami. Salahsatu diantaranya ketika setelah gajian, pemimpin perusahaan tempat saya bekerja selalu berpesan, “Berapapun nominal yang kamu terima, syukuri dan ucapkan dalam hati jika bilangan ini mampu bertahan hingga bulan depan sampai waktu gajian tiba kembali,”

Tak perlu dalam hal materi, syukur sederhan tatkala bangun di esok hari sembari menghirup udara segar juga salahsatu apresiasi diri yang sangat mudah dilakukan. Bersyukur ketika susah, maupun dalam keadaan lapang. Bersyukur ketika orang lain senang, kita pun juga ikut senang.

Apa yang akan kita dapatkan dengan hal-hal sederhana itu?

Kita akan terbiasa dengan bersyukur, menerima atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Sesulit apapun, semudah apapun, karena segala sesuatu tentu ada hikmah dan tujuannya. Dan bagaimana diri ini mampu mengendalikan ego untuk terus bersyukur dalam keadaan apapun. Sebisa mungkin hindari perilaku Cemburu  atas apa yang diperoleh orang lain. Usahakan untuk Senang tatkala orang lain juga merasakan nikmat, Sedih tatkala oranglain berduka, bukan malah cemburu tatkala oranglain senang. Karena, dengan banyak besyukur, maka nikmat lain akan kita peroleh, bisa-bisa lebih besar manfaatnya. Insyaallah.


2. Sabar dan Tulus dalam Penerimaan



Setiap kesuksesan itu membutuhkan pijakan kaki yang panjang, rintisan yang tidak cukup dilukis dalam waktu semalam, seperti halnya dengan cita-cita dan kesuksesan.

Diri ini tentu memiliki keinginan, angan, dan harapan yang mungkin saat ini belum tercapai, terwujud. Dan bagaimana wujud apresiasi untuk diri sendiri? Yakni Sabar dan Tulus dalam Penerimaan. Sudah barang tentu, lebih mudah berucap daripada mempraktekannya. Itu pasti.

Sebuah cita-cita dan kesuksesan tak ada yang bisa diraih dalam waktu semalam. Perlu proses dan berpuluh-puluh langkah yang harus ditempuh untuk sampai di garis finish. Bercita-cita tanpa usaha itu layaknya seorang gila.

Aspek #MemesonaItu dari segi Sabar dan tulus dalam Penerimaan ini, hadir ketika apa yang saya butuhkan tidak serta merta bisa tercapai begitu saja. Saya perlu berusaha keras untuk mencari jalan supaya apa yang saya butuhkan bisa terwujud. Memang jalannya cukup panjang, namun selagi kita mampu menikmati prosesnya dengan bersabar dan tulus dalam penerimaan, Insyaallah ketika harapan itu terkabul, kita amat bersyukur dan senang, maupun terkenang dengan proses bisa mendapatkan barang yang kita butuhkan tersebut.



A post shared by Khoirur Rohmah (@rohmahdg) on


3. Kerja di desa bukan ajang untuk Minder dengan yang di kota



Sebenarnya aspek ini masih masuk pada bagian Sabar dan Tulus dalam Penerimaan. Tapi saya akan menyampaikannya dengan poin berbeda. Pertama kali diterima sebagai karyawan di sebuah CV yang bertempat di desa, diri ini terasa paling hina. Apakah hanya perusahaan dalam desa saja yang mampu menerima saya? Apakah skill ini tak mampu bersaing dengan pekerjaan di dalam kota?

Begitulah pemikiran saya. Namun perlahan dengan pasti saya menyadari jika bekerja di desa bukan sebuah hal yang dianggap minder. Dari sana saya masih tetap bisa berkomunikasi dengan teman-teman maya di seluruh penjuru dunia. Bahkan saya menemukan passion menulis ini juga berkat komunitas menulis di dunia maya.

Tentu ada hikmah ketika saya di tempatkan di desa. Dari sini, kembali pada aspek poin ke 1 dan ke 2 jika kita mampu bersyukur, sabar dan tulus dalam penerimaan, itu adalah salahsatu hal yang bisa membuat aura kita lebih memancar cerah dan membuat diri kian #MemesonaItu dengan tetap mengapresiasi diri sendiri ke arah yang lebih baik.

4. Terus berbagi inspirasi dan menebar manfaat



Tentu diri tak ingin terlalu fokus dengan apa yang dikerjakan secara terus menerus tanpa memberi banyak inspirasi dan menebar manfaat dengan orang lain. Sama halnya ketika saya dimintai tolong untuk menjadi relawan mengajar di madrasah diniyah yang ada di desa saya. 

Dengan anak-anak Madrash Diniyah Malam
Menebar inspirasi dan manfaat itu tak perlu yang memiliki ujung tombak yang bermuara pada sebuah nilai materialistis. Namun, dengan meyalurkan bakat, inspirasi, ilmu, serta manfaat kepada orang lain di sekitar kita, membuat diri akan nampak lebih #MemesonaItu kian memancar dengan jelas.

Hal itu sebagai salahsatu wujud apresiasi diri sendiri loh. Karena, dengan menebar manfaat sembari mengajar, sama halnya ilmu yang kita peroleh bisa bermanfaat untuk orang lain, juga pada diri sendiri.

Jiwa menebar inspirasi ini juga saya salurkan dalam bentuk berbagi dengan adik-adik dalam even bertajuk Kelas Inspirasi yang ada di Indonesia. Selagi bisa dan dapat izin dari orangtua, saya akan ikut dan bertemu dengan rekan-rekan baru dari penjuru Indonesia.

5. Walau punya banyak schedule, jangan lupakan Keluarga



Yah... poin utama dibalik keseharian saya yakni waktu bersama keluarga. Tak perlu muluk-muluk dalam membuat orang rumah tertawa lepas, cukup sisihkan waktu luang yang kita punya dengan berbincang-bincang, saling bantu-membantu, serta memahami kewajiban kita sebagai anggota rumah.

Berhubung saya hanya berdua dengan Ibu di rumah, tentu Ibu lah yang akan menjadi sosok pertama yang akan saya bantu tatkala weekend datang. Liburan boleh, asalkan selesai terlebih dahulu pekerjaan rumah. Capek karena kerja boleh, tapi tugas sebagai anak di rumah juga jangan ditinggalkan, belum siap nikah juga nggak papa, asalkan bisa paham kewajiban dan persiapan-persiapan apa aja yang perlu dilakukan selama di rumah supaya nanti bisa terbiasa tatkala punya pasangan. Salahsatu dari pengingat yang kerap kali Ibu berikan kepada saya.

Hal itu pun juga ujung-ujungnya akan kembali pada siapa kalau bukan pada diri sendiri. Dengan pembiasan-pembiasaan yang baik tentu akan mengarah pada hal yang baik pula. Hal itulah yang membuat saya nampak #MemesonaItu versi saya. Saya percaya dan Saya bangga pada diri sendiri. Saya pun perlu mengapresiasi diri jika mampu melalui salahsatu maupun seluruh poin-poin di atas. Insyaallah.

*Flashback*

Sebelumnya, saya selalu beranggapan, #MemesonaItu seperti sosok pragawati yang melangkah nan elok di panggung perhelatan dengan kaki jenjangnya, wajah cantiknya, kulit putih mulusnya, senyum merekahnya, maupun para hijabers yang punya skill out of the day nya, yang mana setiap kali mereka posting selalu dihujani berbagai Likes, Loves, Retweet, Followers, dan masih banyak lagi.

Tapi ternyata, pemikiran saya keliru. Karena, sosok #MemesonaItu sebenarnya hakikatnya adalah Tetap Menjadi Diri Sendiri,  apalagi di era yang mana kita dituntut bisa menjadi orang lain, merubah jati diri sendiri, tidak percaya diri karena kekurangan diri. ZONK!!! Jadikan Kekurangan sebagai Kelebihan dan juga Kekuatan. Persoalan ‘Apa Kata Orang’ tentu tidak akan ada habisnya. Bagaimana cara kita meng-handle diri sendiri supaya tak ikut tergerus dalam perkataan yang kurang baik terhadap kita itu yang perlu dilakukan. Yuk mari apresiasi apa yang ada pada diri kita sendiri.

Be Youself

 #MemesonaItu sosok yang secara global tidak hanya cantik secara fisik, mereka juga memiliki inner beauty yang lebih cantik lagi, selain dari pada itu, kecantikan mereka dibungkus dengan attitude yang baik.

Itu sosok secara global yang ditujukan untuk perempuan-perempuan di mana pun mereka berada. Tapi bagi saya, tetap poin-poin di atas yang membuat saya nampak mempesona. Menjadi Diri Sendiri, Paham akan Hak dan Kewajiban Diri, Belajar tiada henti di manapun berada, walau dikata saya tak pernah mengenyam pendidikan pada bangku kuliah, Merawat diri sendiri secara fisik, mengasah Inner Beauty, sekaligus memperbaiki attitude yang kurang baik supaya langkah ini bisa terus menjadi Pribadi yang Percaya dan Bangga pada Diri, baik dengan kelebihan maupun kekurang yang dimiliki, dengan start kecil bernama APRESIASI PADA DIRI SENDIRI hingga akan muncul dengan sendirinya #MemesonaItu.

Semoga apa yang saya bagikan ini bisa memberikan manfaat, maupun hikmah bagi kita semua khususnya saya sendiri, supaya bisa menjadi Pribadi yang lebih baik lagi, dan lagi, Insyaallah.

Feel Free to drop your comment ya gaes...

Karangduren, 10 April 2017

Khoirur Rohmah

1,2 - Nama Samaran 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Apa Arti #MemesonaItu

12 komentar:

  1. Bahagia itu bersyukur ya mba, senangnya bisa mengapresiasi diri sendiri. Sukses selalu ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.emh mbak
      Bangga bisa apreasiasi diri sendiri
      Smean juga mbak manda hehee

      Hapus
  2. Be yourself..memang ga ada yg lebih memesona ketika kita mampu menghargai n mencintai diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. YEah mbak, insyaallah bisa menangkis serangan2 dari luar berkaitan dg diri sendiri. Insyaallah :D

      Hapus
  3. Betul.. tetap menjadi diri sendiri itu penting banget..

    BalasHapus
  4. betul..dengan mengapresiasi diri sendiri kita bukan hanya jadi berstukur taoi juga bisa refleksi apa yg harus dikuatin lagi

    BalasHapus
  5. Beryukur, bekerja giat, trus mengapresiasi diri sendiri. Itu sih udah paket lengkap ya mbak :D
    Gud luck lombanya yaaaa

    BalasHapus
  6. Senyummu memesonaku
    Tutur katamu membuatku luluh dalam kata
    Pribadimu membuatku tertunduk malu
    Sungguh ..pesonamu mba Rohmah membuat semua teman larut

    BalasHapus
  7. setuju sama semua yang dikatakan Mba Rohma dalam tulisan ini. Memesona itu bukan hanya tentang fisik menarik tapi lebih dari semua itu adalah bersyukur :)

    BalasHapus
  8. Yeeaay, jadi diri sendiri itu emang kunci utama biar kita bs jadi memesona. Pancarin pesona kita sendiri, gak usah niru orang, karena kita juga punya kelebihan sendiri. Dan pastinya jangan lupa bersyukur agar nikmatnya ditambahkan, Aamiin.

    Good luck ya Rohma ;)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjug. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya...
| Rohmah-dg |

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ads Inside Post